Jalaluddin Rumi Berpuisi dengan Jiwanya
Bagi Anda yang gemar baca puisi, khususnya sastra Islam tentu nama Jalaluddin Rumi sudah tak asing lagi. Dalam dunia sastra, khususnya puisi, sufi yang satu ini menjadi layakya sebuah prasasti yang kekal dan abadi,banyak sudah hasil karya yang telah dihasilkan lewat buah pemikirannya. Namanya, tak hanya dikenal orang Islam saja, nonmuslimpun mengacungkan dua jempol untuknya.
.
30 September mendatang adalah ulang tahun Rumi yang 793. Tepatnya ia lahir di pada tahun 1207 di Balkh, sebuh dusun kecil di kota khurasan, Afghanistan. Jika diurutkan ke atas Rumi masih punya darah keturunan Abu Bakar Assidiq dari ayahnya. Rumi terlahir dari keluarga yang sangat keras dalam menerapkan pendidikan beragama. Nama Rumi sendiri di ambil dari kata Romawi, yang saat itu merupakan sentral peradaban dunia.
Jalaluddin Rumi adalah seorang yang senang mencoba akan hal-hal baru,karena didikan keras sang ayah, maka beliau tak kenal kata menyerah dalam mencari inspirasi-inspirasi baru untuk dituangkan dalam karya sastranya. Dalam proses pembuatan karya sastra Rumi menuangkan semua apa yang ada didalam jiwanya saat itu, oleh karena itu sebagian besar karya sastranya identik dengan semua perasaan yang tercurah dari dalam jiwanya, dan hubungannya dengan sang pencipta. Jalaluddin Rumi adalah seorang pengembara sejati, banyak kota dan penjuru yang sudah dijelajahinya. Banyak manusia dan bermacam-macam karakter telah ditemuinya. Dalam perjalanannya mengembara ini, ia pernah bertemu dengan seorang ulama sufi terkenal di Nishafur, yang bernama Fariduddin Attar. Dalam pertemuan ini, Attar memberikan hadiah pada Rumi, sebuah buku berjudul Asrarname. Selain itu, Attar juga memberikan banyak pelajaran kepada Rumi. yang tidak bisa terlupakan sepanjang hidupnya, Attar saat itu meramal, bahwa suatu saat nanti Rumi akan menjadi terkenal dan diakui oleh dunia.Ternyata ramalan Attar tidak meleset sedikitpun, saat ini semua orang mengakui kehebatan Jalaluddin Rumi
.
Masa kecil Rumi dilalui dengan pendidikan keras yang diterimanya dari sang ayah, oleh karena itu Rumi tumbuh menjadi seoarang yang tidak tahu akan dunia luar,selain Qur'an, hadits, fiqh, tafsir dan filsafat ia tak mau mempelajarinya. Sampai suatu hari Rumi bertemu dengan seorang sufi yang merubah hidupnya menjadi lebih berwarna, seorang sufi yang dengan tenang membuang buku-buku filsafat Rumi ke dalam sumur, ia adalah Syamsi Tabriz "Buku ini sangat rumit dan sulit dipahami," katanya sambil melempar buku-buku tebal Rumi ke dasar sumur
.
Kontan saja, Rumi marah besar dibuatnya dan mengatakan betapa besar kerugian akan peristiwa itu. Tapi Syamsi tidak menghiraukan perkataan Rumi, ia malah tersenyum dan dengan tenang menarik kembali buku-buku yang ia lemparkan kedalam sumur, setelah terangkat semua buku dari dalam sumur,sebuah peristiwa ajaib terjadi,tidak ada selembarpun dari buku-buku itu yang basah ataupun robek, Rumi tercengang dan kaget setengah mati,didalam hatinya penuh tanya, apa yang telah terjadi???.bukan karena sihir atau ilmu hitam, tapi karena kedekatan Syamsi dengan Allah SWT, dan karena niat baik Syamsi untuk memberikan pelajaran kepada Rumi. Peristiwa itulah yang membuat Rumi memohon untuk menjadi murid Syamsi.
Sejak saat itu hubungan antara Rumi dan Syamsi semakin erat,sampai-sampai murid-murid Rumi iri dibuatnya. . Akhirnya beberapa orang merencanakan pembunuhan kepada Syamsi, dan terjadilah tragedi itu. Sejak tragedi itu, Rumi seolah memutuskan diri dengan dunia. Perhatiannya hanya tercurah untuk beribadah kepada Allah dan menulis buku serta puisi yang tadinya tak pernah ia sukai.
Selain menulis puisi, Syamsi Tabriz, mendiang gurunya itu mengenalkan pula kepada Rumi berbagai macam kesenian lainnya, diantaranya adalah tarian religi yang biasa di sebut Sama'. Tarian ini biasanya dibawakan oleh orang-orang yang menganut ajaran sufi yang disebut darwis, kebanyakan dari darwis adalah laki-laki.
Tarian ini melambangkan kebebasan manusia untuk bertemu Tuhannya. Para penari memakai baju putih dengan bagian bawah yang lebar, seperti rok panjang. Asesoris lain adalah turbus sewarna yang menjulang berputar diatas kepala mereka. Banyak langkah-langkah yang dilakukan oleh penari dalam melakukan sama' yaitu membaca al Fatihah sambil berputar, kian lama kian cepat putaran mereka. Kemudian hanya kalimat Allah, Allah, Allah saja yang terdengar nyaris seperti dengungan lebah. Tarian sama' menurut para sufi adalah tarian yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan makin cepatnya perputaran dalam tarian, semakin terasa getaran antara dirinya dengan sang pencipta.
Kini, meski bukan Rumi yang melakukan tarian ini untuk pertama kali, tapi Sama' nyaris identik dengan Rumi. Jalaludin Rumi, hingga akhir hayatnya hanya mengasingkan diri dan memperbanyak beribadah kepada Allah SWT, dalam pengasingan dirinya itu Rumi banyak menghasilkan karya sastra yang berkualitas, karya Rumi identik dengan penyejukkan hati, dan hubungan hamba dengan penciptaNya, Karena sebagian besar karyanya tercurahkan dari hatinya yang paling dalam, akan sebuah pengakuan doasanya kepada sang pencipta.
Berikut sepenggal puisi bagian dari karyanya yang terkenal Mastnawi yang diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan judul "Terang Benderang".
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar